Lesbumi Lamongan menempatkan penguatan aksara Pegon sebagai bagian dari pengabdian kebudayaan. Tradisi tulis pesantren ini menyimpan warisan keilmuan ulama Nusantara sekaligus menjadi penghubung generasi muda dengan akar budayanya.
Dalam rangkaian peringatan Satu Abad NU di Pondok Pesantren Matholi’ul Anwar, Karanggeneng, pengenalan Pegon diwujudkan melalui penggunaannya pada publikasi, latar panggung, dan sertifikat kegiatan. Kehadiran tersebut membuka kesempatan bagi masyarakat untuk menjumpai Pegon di luar ruang pembelajaran pesantren.
Fungsi dan Tujuan
Penguatan Pegon diarahkan untuk:
- Menjaga kesinambungan literasi pesantren, agar warisan pengetahuan tetap dapat dikenali oleh generasi berikutnya.
- Memperkuat identitas budaya, dengan mendekatkan generasi muda kepada tradisi intelektual Islam Nusantara.
- Memperluas ruang penggunaan, sehingga Pegon hadir dalam kegiatan organisasi, komunikasi budaya, dan kehidupan sehari-hari.
- Menjangkau generasi digital, melalui pengembangan pengenalan Pegon yang sesuai dengan perkembangan zaman.
Cita-Cita Kebudayaan
Lesbumi Lamongan mengarahkan ikhtiar ini pada tumbuhnya generasi yang mengenal warisannya dan mampu mengembangkannya. Pegon diharapkan menjadi tradisi literasi yang terus digunakan, dipelajari, dan diwariskan.
Dengan mempertemukan pelestarian dan pembaruan, Lesbumi Lamongan berupaya menjadikan Pegon sebagai bagian hidup dari kebudayaan daerah: dekat dengan masyarakat, terbuka bagi generasi muda, dan berdaya dalam menghadapi masa depan.